Terkuak! Dokter Ortopedi di Indonesia dan Bali Masih Minim, Bullying Jadi Atensi PABOI

- 25 November 2023, 17:40 WIB
The 71st Continuing Orthopaedic Education (COE) of Indonesian Orthopaedic Association (IOA) yang digelar oleh PABOI di Jimbaran pada Sabtu (25/11/2023
The 71st Continuing Orthopaedic Education (COE) of Indonesian Orthopaedic Association (IOA) yang digelar oleh PABOI di Jimbaran pada Sabtu (25/11/2023 /ISTIMEWA

DENPASARUPDATE.COM - Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) sukses menggelar “The 71st Continuing Orthopaedic Education (COE) of Indonesian Orthopaedic Association (IOA)”.

Ini merupakan pertemuan penting yang terdiri dari para profesional, peneliti, dan pakar orthopaedi terkemuka yang sudah berlangsung rangkaian dari tanggal 22-25 November 2023 di Jimbaran Convention Center.

Peserta dari acara ini terdiri dari dokter Orthopaedi seluruh Indonesia dan mancanegara. Pulau Bali menjadi daya tarik yang luar biasa sebagai surga dunia akan keindahan alam dan budaya nya untuk menghadiri acara symposium.

Acara ini menghadirkan para pakar dibidang Orthopaedi dari luar negeri seperti Amerika, Malaysia, Vietnam, Thailand, Korea, hingga Bangladesh bahkan menghadirkan Combined Meeting dengan Singapore Orthopaedic Association yang dilakukan secara daring.

Kegiatan ini memberikan pandangan baru dan menyajikan kemajuan terkini dalam penelitian ortopedi, memberikan wawasan tentang penemuan-penemuan inovatif dan pendekatan inovatif terhadap perawatan pasien.

Dalam acara kali ini, ada satu isu yang menarik. Bagaimana caranya meminimalisir perundungan yang terjadi kepada para dokter yang masih melanjutkan studinya. Penandatangan MoU pun juga dilakukan dengan para akdemisi dari berbagai universitas yang ada di Indonesia.

Misalnya saat masih berstatus residen dan sebagainya. Perundungan antara dokter senior dan junior masih kerap terjadi.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua PABOI/IOA Prof. Dr. dr. Ismail HD, SpOT (K). Ia ingin menekankan bahwa dalam proses pendikikan bukan hanya kedokteran, harus ada saling menghargai satu sama lain.

“Harus saling menghargai dan saling menghormati. Tidak hanya antar dokter saja, tetapi tetap pada seluruh profesi yang ada. Tidak bisa dipungkiri juga, perundungan pasti ada. Tapi harus bisa diminimalisir. Negara maju seperti Amerika serikat saja bullying masih terjadi,” jelasnya.

“Kami menghargai dan sangat tidak setuju dengan adanya penekanan yang sifatnya bullying. Kami anti-bullying di pendidikan residen ortopedi. Kami harus menegaskan itu,” tambahnya.

Selain kasus bullying yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah masih minimnya lulusan dokter spesialis ortopedi di Indonesia.

Hal ini ungkapkan oleh Ketua Panitia COE71 PABOI Dr. dr. I Gusti Lanang Ngurah Agung Artha Wiguna, SpOT (K).

Dari data yang ada, dokter spesialis ortopedi di Indonesia hingga saat ini kurang lebih ada Sekitar 1.400 orang.

Lantas bagaimana dengan di Bali? Hanya Sekitar 30 orang saja menurut dr. Lanang Artha Wiguna. Tidak hanya di Bali, tetapi jumlah tersebut termasuk Nusa Tenggara.

“Tentu jumlah ini masih sangat kurang. Belum angka yang ideal menurut kami,” terangnya. Menurut dr. Lanang, idealnya dokter spesialis ortopedi di Indonesia adalah 0,01 per 100 ribu orang.

Jadi minimal ada 1 dokter ortopedi per seribu orang. “Itu idealnya berdasarkan perhitungan kami. Jumlah ideal ini tidak hanya berdasarkan jumlah, tetapi juga harus berdasarkan fasilitas dan distribusi,” ucapnya. “Tanpa adanya fasilitas yang baik, pelayanan mungkin bisa kurang optimal kepada pasien. ***

Editor: Tegar Putra Jaya


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x